Mengenang Syaikh Tarbiyah, Ustadz Rahmat Abdullah
Senin, 30 Juni 2008 | Pkl. 16:00:02 WIB | 141 kali dibaca
Seonggok kemanusiaan terkapar.
Siapakah…
yang mengaku bertanggung jawab?
Bila semua pihak menghindar,
biarlah saya yang menanggungnya,
semua atau sebagiannya…
(Ust. Rahmat Abdullah)
Subhanalloh… sebuah kalimat yang penuh kekuatan. Kekuatan seorang ksatria, kekuatan kehidupan!
Sungguh, amat jarang kujumpai pemimpin di negeri ini berkata demikian. Bukan sebatas kata, tapi benar-benar dilakukan di tiap langkahnya yang dalam.
Sering ‘ku menggeleng membaca tulisan-tulisanmu. Tak mengerti. Terlalu rumit dan berat untukku yang sarjana. Padahal kau hanya lulusan SD dari sekolah formal!
“Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi,” katamu.
Kita memang tak pernah bertemu, tapi ‘ku masih menyimpan banyak tulisanmu, di majalah ataupun buku. Itulah yang membuat figurmu terasa dekat denganku.
Beberapa kali ‘ku main ke sekolahmu, berharap ‘tuk bertemu. Namun kau super sibuk, aku tahu itu. Tapi tiap lewat dan lihat depan rumahmu, hatiku bergetar! Kagum ustadz! Rumah mungilmu… terasa begitu teduh…
Aku memang tak pernah didaurah langsung olehmu, tapi buku-bukumu yang mendidikku. Meski kau mungkin akan marah, kalau tahu banyak yang kulupa dan lalaikan dari apa yang kau ajarkan…
Ustadz… ajarkan aku untuk tidak terlalu mencintai dunia ini ustadz… seperti yang kau jalani selama ini.
Ah ustadz… aku sedih! Melihat azzam ikhwah-ikhwah kita mulai luntur. Azzam ‘tuk membumikan Izzul Islam wal Muslimun! Terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu nyaman dengan jabatan, terlena dalam nikmat dunia…
Tapi kutahu kau pasti akan bilang “Teruslah berjuang!” dalam manhaj dan partai ini… bukan menyerah. Lawan! Lawan! Penyusup dan kaki tangan-kaki tangan itu…!!
Untung kau sudah tidak ada ustadz… jika tidak, air matamu pasti terus membasahi pipimu, melihat ummat yang semakin terdesak. Dalam himpitan ekonomi dan perusakan aqidah.
Mengapa ustadz? Engkau anggota dewan, tapi kau sendiri yang menyapu halaman. Mobil dinas pasti tersedia, tapi kau memilih menunggu Kopaja.
Itulah dirimu…
Itulah kesahajaanmu…
Sahaja yang membuat riang gembira semua ikhwah tatkala kau hadir di tengah mereka. Ibarat anak bertemu bapaknya…
Sahaja yang meluluhkan hati dan air mata semua tatkala kau pergi dari mereka… untuk selamanya… Ibarat bapak meninggalkan anaknya…
Yogyakarta, 30 Juni 2008
Bolehkah aku memanggilmu, ayah?







bagus lah ARS sihat.. blogdrive kamu macam mana? sudah stop kah?
ouh.. masih ada rupanya.. mine already delete
jazakallah pak atas tulisannya…..bener yah kata orang bijak, seseorang itu akan dikenang atas apa yang ia lakukan. Saya pun punya kesan tersendiri dengan almarhum meski tak pernah bertemu. Menjelang pemutaran film beliau, saya selalu merasa rindu sosok beliau, seperti ayah kita sendiri, meski saya tak lahir dari nasab beliau. Jazakallah sudah membangkitkan memori ‘bergerak’ saya
[…] dan aktivis peduli pendidikan ini merasa penting untuk mempelajari kehidupan ustadz berjuluk “Syaikut Tarbiyah” itu. Irwan merasa beruntung pernah mendapat didikan langsung dari Ustadz Rahmat, sehingga […]
[…] Bolehkah aku memanggilmu, ayah? Sumber: http://apadong. com/2008/ 06/30/mengenang- syaikh-tarbiyah- ustadz-rahmat- abdullah […]
[…] Rahmat Abdullah dalam Dakwah Tarbiyah SESI I : Pkl. 09.00-11.00 WIB “Kajian sejarah hidup Ust. Rahmat Abdullah” Pembicara : - Ust. Mahfudz Abdurrahman - KH. Abdul Rasyid AS * Moderator : Muhammad Yulius […]