MERDEKA (oleh KH. Rahmat Abdullah)
Kamis, 28 Agustus 2008 | Pkl. 02:10:55 WIB | 41 kali dibacaM.E.R.D.E.K.A
Oleh KH. Rahmat Abdullah
Kalau ada kata malang bagi nasib selain manusia, itulah kata malang bagi nasib kemerdekaan, makhluk yang selalu dirindukan sebelum bertemu dan disia-siakan setelah tergapai. Kemerdekaan yang diperjuangkan para martir, beberapa tahun kemudian jatuh lagi ke tangan para penjarah, dengan cara dan tampilan lain. Apa perlu perang apabila beberapa tahun setelah kemerdekaan bangsa pejuang itu mengikuti ideologi dan langkah mantan musuhnya yang telah merenggut jutaan nyawa? Apa yang dilakukan China dan Vietnam setelah perjuangan ideologi mereka menang? Berkiblat seakurat atau sedekat mungkin dengan mantan musuh? Berapa jarak mereka dengan mantan penjajah mereka?
Sufi, burung unta & pembebasan sejati
Ada kontroversi dalam kiprah kaum sufi, antara tudingan fatalis, tak peduli dan anti perjuangan dunia di satu sisi dan sanjungan karena kepeloporan merubah kondisi masyarakat, membangun etos kemandirian sosial dan ekonomi, sampai perjuangan kemerdekaan di sisi lain. Untuk yang kedua, Afrika Utara menjadi contoh khas dengan gerakan Assanusiyah dan tarekat Sunniahnya (mereka lebih merupakan gerak reformasi daripada sufi). Terkait langsung atau tidak, dalam diri para penganutnya tersimpan energi yang luar biasa besarnya. Itulah semangat merdeka. Soal kapan mereka mulai action, kembali pada ketajaman analisa dan ketepatan kalkulasi atau kejernihan intuisi yang kerap di kalangan aliran khurafat disampul dengan kesakralan kewalian. Ta’wil dan pembenaran akhir akan selalu muncul. Bila ada rezim represif yang tangannya berlumuran darah ummat dan kaya dari hasil merampok kekayaan rakyat lalu didukung oleh ratusan gerakan tarekat dengan berbagai rumusan tasawuf, itulah sebagian dari contoh pertama.


).
tapi karena blognya memang selalu ramai dikunjungi ribuan orang tiap harinya. Nah, sekarang coba saja masukkan query ini ke dalam kotak pencarian 





